Senin, 27 April 2015

Makalah Pemikiran Karl Marx

Makalah Pemikiran Karl Marx
Diseminarkan pada mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam








Oleh :
Abdul Rahman
Ferdiansya S
Inayah Khairat


JURUSAN EKONOMI ISLAM
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR



KATA PENGANTAR
BISMIL
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji dan Syukur adalah sebuah keniscayaan yang Penulis haturkan kehadirat Allah SWT karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nyalah sehingga penulis dapat menyusun Makalah yang berjudul “Pemikiran Karl Marx”.
Shalawat dan salam penulis curahkan kepada baginda Rasulullah saw. sang revolusioner sejati yang memberikan kita pencerahan sehingga kita mampu keluar dari belenggu kejahilan.
Adapun makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas makalah kelompok dan juga sebagai salah satu prasyarat untuk memperoleh nilai dalam mata kuliah. Selain itu juga untuk memberikan sumbangsi ide terhadap permasalahan yang selama ini dialami di negara – negara Islam, terutama di negara kita Indonesia.
Dalam penyelesaian makalah ini, penulis tentunya mendapatkan begitu banyak hambatan. Namun berkat bantuan dari beberapa pihak yang tak sempat penulis sebutkan, maka penulis mampu menyelesaikan makalah ini. Untuk itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih.

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………………i
KATA PENGANTAR………………………………………….ii
DAFTAR ISI……………………………………………………iii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………….1
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………..4
BAB II PENUTUP………………………………………………..18
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………….20










BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Karl Heinrich Marx adalah seorang yang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap sejarah perkembangan umat manusia modern. Pemikirannya bukan hanya meliputi ekonomi dan sosiologi melainkan ia juga adalah seorang filsuf dan sejarawan yang ulung. Bahkan sampai saat ini, pemikirannya masih banyak mendapatkan pro dan kontra dikalangan pemikir dan ilmuwan.
            Menurut Franz Magnis Suseno, sejarah perkembangan umat manusia bisa saja berbeda pada hari ini tanpa kehadiran Karl Marx. Tidak mengherankan jika Michael Hart meletakkan Karl Max di tempat yang tinggi dalam susunan Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam sejarah. Pada masa jayanya, jumlah manusia yang sedikitnya terpengaruh oleh Marxisme mendekati angka 1,3 milyar. Jumlah penganut ini lebih besar dari jumlah penganut ideologi mana pun sepanjang sejarah manusia.
            Pengaruh pemikiran Marx tidak bisa diragukan lagi dalam sejarah perjalanan dunia dewasa ini. Berbeda dengan filsuf pada umumnya, Marx tidak hanya memberikan rangsangan terhadap cara berfikir manusia yang mempelajari karyanya namun ia juga mengubah cara manusia dalam bertindak. Menurut Marx, “Para filosof hanya menginterpretasikan dunia dalam berbagai cara; masalahnya adalah bagaimana mengubah dunia.”[1] Hal inilah yang kemudian membedakan Marx dari filosof lain, misalnya, Auguste Comte atau Martin Heidegger, bahkan David Hume yang hanya sanggup mengubah cara manusia berfikir. Meskipun tidak bisa dipungkiri juga bahwa perubahan pemikiran ini berdampak pada kehidupan masyarakat luas, namun efeknya tidak sebesar Karl Marx. Filsafat Marx lebih diletakkan untuk mengubah dunia. Hal ini dibuktikan dengan terjun langsungnya Marx bersama dengan Friedrick Engels dalam Liga Komunis di Eropa dan mereka berdua pulalah yang menjadi tokoh teoritisnya. Dari organisasi ini pula Marx menuliskan pemikirannya dalam sebuah naskah bernama The Comunist Manifest, yang pada masa hidupnya ia mencari data sejarah yang dapat mendukungnya. Dari situ pula;ah lahir beberapa karya Marx yang dapat memberikan bahan acuan kepada penulis untuk sebisa mungkin membedah pemikiran Marx.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian diatas, maka kami selaku penulis merumuskan beberapa masalah pokok yang akan kami bahas adalah “ siapa Karl Marx serta bagaimana isi pemikiran Karl Marx, mulai dari filsafat, sosial dan juga ekonominya”. Untuk lebih rinci dan jelasnya pokok masalah diatas, maka kami akan menjabarkannya  dalam bentuk sub-sub masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana perjalanan hidup dan Intelektual Karl Marx?
2.      Bagaimana pendapat Karl Marx terhadap pemikiran G.W.F Hegel dan Ludwig Feurbach?
3.      Bagaimana peta konsepsi Karl Marx terhadap pembentukan  masyarakat?













BAB II
PEMBAHASAN
A.    Biografi Karl Marx
Karl Marx, lahir pada bulan Mei 1818 di Trier, Jerman. Ayahnya seorang pengacara yang beberapa tahun sebelumnya pindah agama Yahudi menjadi Kristen Protestan. Perpindahan agama ayahnya yang begitu mudah diduga merupakan alasan mengapa Karl Marx tidak pernah tertarik dengan Agama. Ayahnya mengharapkan Marx menjadi notaris sebagaimana ayahnya. Namun tetangga Marx, Baron von Westphalen, yang kemudian menjadi mertuanya mempengaruhinya dengan karya-karya Shakespeare dan Homer, serta mendorongnya untuk mempelajari karya-karya Saint-Simon (1760-1825), seorang tokoh sosialis Prancis[2].
Pada saat di Trier ia bersekolah pada sekolah Yesuit, yang mana kepala sekolahnya adalah pengikut ajaran Immanuel Kant (1724-1804)[3], yang dicurigai Pemerintah Prusia sebagai penyebar pemikiran-pemikiran liberal.
Pada tahun 1835, yakni pada usia 17 tahun, Marx meninggalkan Trier dan mempelajari Ilmu Hukum di Universitas Bonn. Di sana ia dipengaruhi oleh dosennya W.Fr.Schlegel yang memnyebkan ia lebih banyak mempelajari dan menulis puisi ketimbang mempelajari hukum. Disamping itu ia hidup berfoya-foya dan terlilit hutang. Ketika kedapatan menderita luka dalam sebuah perkelahian, ayahnya memindahkannnya ke Universitas Berlin yang lebih bergengsi. Pada saat itu semua Universitas di Jerman diwajibnkan untuk mengajarkan ajaran Filsafat George Friedrich Wilhelm Hegel (1770-1831).
Dalam masa awal kuliahnya di Universitas Berlin, Marx sendiri lebih sering mengikuti pertemuan-pertemuan dari pada mengikuti materi perkuliahan. Pada tahun pertama di sana ia telah memasuki sebuah kelompok terpelajar “Klub Para Doktor”, yang juga dinamakan “Kaum Hegelian Muda” yang berpandangan radikal. Sebagian dari anggotanya adalah pengajar universitas. Namun di dalam kelompak tersebut sudah mulai banyak terungkap perbedaan dalam menanggapi permasalahan-permasalahan mutakhir yang dihadapi oleh masyarakat. Tetapi dari berbagai pandangan yang ada, ia dapat memadukannya kedalam pendapatnya sendiri yang hasilnya sangat mengairahkan. Pada saat itu ia merasa telah merasa menjadi pengikut Hegel yang matang[4]. Di kemudian hari ia menyatakan memisahkan diri dari pemikairan mereka ini.
Karena tidak disukai di Universitas Berlin, Marx menulis dan mempertahankan desertasinya untuk mencapai gelar Doktor Filsafat di Universitas Jena pada tahun 1841 tentang Filsafat Demokritos dan Epocurus[5]. Kertas kerja dan pengantar disertasi ini secara jelas menunjukkan Marx sangat Hegelian, dan antiagama. Hal terakhir ini juga yang membuat Marx dicap sesat, dan mulai dijauhi rekan-rekannya. Marx tumbuh di tengah pergolakan politik yang dikuasai oleh kekuatan kapitalis para Borjuis yang menentang kekuasaan aristokrasi feodal dan membawa perubahan hubungan sosial.
Meskipun ia memperjuangkan kelas orang-orang tertindas sebagai referensi empiris dalam mengembangkan teori filsafatnya. Selama hampir setahun ia menjadi pimpinan redaksi sebuah harian radikal 1843, sesudah harian itu dilarang oleh pemerintah Prusia, ia kawin dengan Jenny Von Westphalen, putri seorang bangsawan, dan pindah ke Paris. Di sana ia tidak hanya berkenalan dengan Friedrich Engels (1820-1895) yang akan menjadi teman akrab dan “penerjemah” teori-teorinya melainkan juga dengan tokoh-tokoh sosialis Perancis. Dari seorang liberal radikal ia menjadi seorang sosialis. Beberapa tulisan penting berasal waktu 1845, atas permintaan  pemerintah  Prussia, ia diusir oleh pemerintah Perancis dan pindah ke Brussel di Belgia. Dalam tahun-tahun ini ia mengembangkan teorinya yang definitif. Ia dan Engels terlibat dalam macam-macam kegiatan kelompok-kelompok sosialis. Bersama dengan Engels ia menulis Manifesto Komunis yang terbit bulan Januari 1848[6].
Sebelum kemudian pecahlah apa yang disebut revolusi’48, semula di Perancis, kemudian juga di Prussia dan Austria. Marx kembali ke Jerman secara ilegal. Tetapi revolusi itu akhirnya gagal. Karena diusir dari Belgia, Marx akhirnya pindah ke London dimana ia akan menetap untuk sisa hidupnya.
Kehidupan baru Marx di London dimulai dengan aksi-aksi praktis dan revolusioner ditinggalkan dan perhatian dipusatkannya pada pekerjaan teoritis, terutama pada studi ilmu ekonomi. Tahun-tahun itu merupakan tahun-tahun paling gelap dalam kehidupannya. Ia tidak mempunyai sumber pendapatan yang tetap dan hidup dari kiriman uang sewaktu-waktu dari Engels. Disana ia belajar setiap hari, bahkan terkadang mulai dari pagi hingga malam hari di Perpustakaan British Museum tentang perkembangan ekonomi, mencari fakta sejarah tentang perkembangan masyarakat dan sejarah berdasarkan produksi di bidang ekonomi.
Akhirnya, pada tahun 1857 Marx menyelesaikan sebuah tulisan setebal 800 halaman yang membahas tentang modal, kepemilikan tanah, upah buruh, Negara, perdagangan luar negeri dan pasar dunia. Tulisan ini diberi judul Grundisse, namun baru diterbitkan pada tahun 1941. Dan setelah penulisan grundisse, pada awal 1860-an, ia beralih menulis Theory of Surplus Value sebanyak 3 jilid. Buku ini membahas secara khusus tentang teori nilai Adam Smith dan David Ricardo[7].
Sedangkan pada tahun 1867, barulah terbit jilid pertama Das Kapital, karya utama Marx. Dalam karya ini, ia mungembangkan konsepnya mengenai labour theory of value, surplus value dan eksploitasi kaum kapitalis yang pada akhirnya menghasilkan kemelaratan bagi kaum buruh (verelendungstheorie: Teori Pemelaratan). Sedangkan jilid kedua dan ketiga baru diselesaikan oleh Friedrich Engels setelah Marx meninggal yakni pada tahun 1885 dan 1894. Tahun-tahun terakhir hidupnya amat sepi dan tahun 1883 ia meninggal dunia.
B.     Pendapat Karl Marx Terhadap Pemikiran G.W.F Hegel dan Ludwig Feurbach
Seperti yang dikemukakan pada bagian sebelumnya, mulanya Marx mempelajari ajaran filsafat Hegel yang mengagungkan pikiran manusia di atas materi. Hegel berpendapat bahwa[8]:
1.      Alam ini adalah proses menggelarnya fikiran-fikiran , sehingga dari proses terse­but timbul proses alam, sejarah manusia, organisme dan kelembagaan masyarakat (pandangan historical idealism).
2.       Bagi Hegel materi adalah kurang riil diband­ingkan dengan jiwa (spirit), karena fikiran atau jiwa adalah esensi dari alam.
3.      Dunia menurut Hegel adalah selalu dalam proses perkembangan (perubahan). Proses peru­bahan tersebut bersifat dialektik, artinya perubahan-perubahan tersebut berlang­sung melalui tahap afirmasi atau tesis, antitesis (pengingkaran) dan sampai pada sintesis atau integrasi. Segala perkemban­gan baik dalam benda atau dalam ide, ter­jadi dengan cara mengalahkan kontradiksi (dialektika)[9].
Pandangan Hegel tersebut dikenal dengan filsafat historical idealism[10]. Yang mengartikan sejarah adalah sejarah gaga­san dan berarti pula bahwa lokomotif pe­rubahan itu adalah gagasan (ide), dimulai dari benak manusia kemudian dilakukan dalam kehidupan manusia Penafsiran lain terhadap pandangan Hegel (dialek­tika) yaitu bahwa pelajaran sejarah apa­pun yang ada di dalam kehidupan tidak mengikuti perkembangan akumulatif dari masa ke masa. Tetapi perkemban­gan masyarakat itu justru karena adanya pertentangan (kekuatan contradiction, kontradiksi). Bagi Hegel kontradiksi itu ada di dalam gagasan yang dikenal tesis, antitesis dan sintesis yang dikenal pula dengan dialektika.
Marx menolak idealisme Hegel, ia membalikkan filsafat Hegel, dan me­nyatakan bahwa hanya materi (bukan ide atau gagasan) yang pokok seba­gai lokomotif perubahan. Materi yang diperlihatkan oleh organisasi ekonomi dari masyarakat serta cara-cara produksi (mode of production), maka akan menen­tukan kelembagaan politik dan sosial dari masyarakat (superstruktur) . Keke­liruan Hegel menurut Marx dan Engels, karena Hegel menyajikan dalam bentuk mistik. Jika pandangannya dibebaskan dari bentuk mistiknya, maka anggapan sejarah adalah dialektika akan merupakan kebenaran yang dalam. Dialektika bagi Marx dan Engels adalah fakta empirik, yang dapat diketahui dengan penyelidi­kan tentang alam, yang dikuatkan lebih lanjut oleh hubungan-hubungan sebab akibat yang diperlihatkan oleh ahli sejarah dan sains. Proses dialektika bukan proses mekanik dan deterministik, tetapi banyak faktor yang berinteraksi, dimana produk bahan keperluan hidup merupakan faktor dominan.[11] Marx menolak idealisme Hegel, tetapi menerima dialektikanya, sehingga historical idealism fikiran Hegel diadopsi aspek historisnya saja dan ditambahkan aspek dialektikanya, sehingga Marx me­nyusunnya menjadi idealisme sejarah (historical idealism), yang akhirnya menjadi historical materialism, setelah mengkritik dengan pedas dan mengambil aspek ma­terialisme dari Feurbach.
Demikian pula pandangan Feurbach (1804-1872), dikenal sebagai tokoh pe­mikiran materialisme mekanik (mechanis­tic materialism), pandangannya menolak metafisika. Menurut Feurbach yang pen­ting bagi manusia adalah usahanya bukan akalnya, sebab pengetahuan hanya sebagai alat untuk mencapai usaha manusia ber­hasil. Manusia sebagai makhluk alamiah (Gattung).[12] Materialisme mekanik adalah sebagai doktrin yang menyatakan bahwa alam itu diatur oleh hukum-hukum alam yang dapat dijelaskan oleh sains fisik.[13]
Demikian pula materialisme mekanik dari Feurbach tidak luput dari kritik Marx, yang ditulisnya dalam Tesis-tesis menge­nai Feurbach (Theses on Feurbach). Marx menyatakan bahwa:
Pendekatan Feurbach tidak historis, ia membuat manusia abstrak mendahului masyarakat, ia tidak menurunkan manusia menjadi shaleh dan gagal melihat bahwa rasa shaleh itu sebagai produk sosial. Gaga­san Feurbach hanya merupakan “renung­an” realitas materi padahal ada realitas timbal balik antara kesadaran dan praksis manusia. Kenyataan material diyakini ma­nusia sebagai penentu kegiatan manusia, tetapi tidak menganalisis modifikasi dunia obyektif dengan subyektif dengan kegiatan manusia. Dengan demikian doktrin mate­rialis Feurbach tidak mampu menangani fakta, maka kegiatan revolusioner adalah tindakan manusia yang dilakukan secara sadar dan dikehendaki. Dimana ini dalam kaitan pengaruh “searah” kenyataan materi memengaruhi gagasan. Keadaan diubah oleh manusia dan sang pendidik harus dididik.[14]
Keberatan Marx terhadap para ma­terialis karena bukan menggunakan metode dialektis, melainkan statis, sehingga tidak historis. Padahal Marx berusaha menerapkan materialisme dialektis bagi kehidupan masyarakat. Marx tidak tahan melihat kenyataan dan tidak mau meng­gantungkan diri kepada hukum-hukum alam (yang bersifat mekanistik). Manusia dalam pandangan Marx tidak lepas dari hubungan-hubungan kemasyarakatan yang melahirkan manusia. Pertumbuhan manusia menyibukkan manusia untuk giat bekerja dan berproduksi. Dengan de­mikian Marx mengambil “materialisme” dan meninggalkan unsur filsafat “me­kanistiknya” dari pandangan Feurbach, untuk kemudian menggabungkan dengan “historisnya” yang diambil dari Hegel. Sehingga Marx jalan sendiri dengan hasil adopsi dari kedua filosof tersebut de­ngan pandangan “materialisme sejarah” dengan menggunakan metode dialektika dari Feurbach. Marx dalam hal ini menjadi peramu pemikiran filsafat ulung, melalui kritik dan mengembangkannya secara empirik.
C.    Konsep Marx Dalam Pembentukan Masyarakat
Dalam metode dialektika yang dikembangkan oleh Hegel, Marx juga tidak menafikkan bahwa dia juga menggunakannya. Namun dia juga mengemukakan ketidak sepakatan terhadap dasar filosofi Hegel yang mengagungkan ide ketimbang meteri. Penolakan Marx ditunjukkan dalam gagasannya yaitu:
Metode dialektikaku bukan saja berbeda melainkan bertentangan dengan metode Hegel. Bagi Hegel, proses perkembangan otak manusia, yaitu proses berpikirnya, yang dibawah nama ‘gagasan’ ia mengubahnya menjadi sebuah pokok bahasan yang independen yang merupakan pencipta dari dunia kenyataan (Realitas), dan bahwa dunia kenyataan hanya suatu unsur eksternal dari dunia ‘gagasan’. Pendapatku adalah sebaliknya; apa yang ideal tidaklah lebih dari pencerminan dari pikiran manusia terhadap kenyataan, yang diterjemahkan kedalam gagasan.[15]
Dialectical Materialism dari Marx juga menggunakan 3 hukum dari Hegel yang terdiri dari:[16]
1.         The Law of The Unity and Struggle of Opposite
                        Hukum ini menerangkan tentang adanya terjadinya pertentangan dan perubahan dalam setiap materi atau gejala. Setiap benda terdiri dari dua unsur yang bertentangan. Misalnya saja atom tersusun atas proton dan electron, listrik mempunyai muatan positif dan negatif, manusia memiliki sifat-sifat social dan individualis dsb. Walaupun bertentangan, namun menimbulkan satu kesatuan. Pertentangan itu menimbulkan kekuatan yang yang mengakibatkan perubahan dan perkembangan.  Seluruh alam berubah dan berkembang bukan karena Tuhan atau suatu kekuatan luar lainnya, melainkan karena adanya kontradiksi yang cirri setiap benda dan gejala. Setiap benda dan gejala itu bergerak. Itulah sebabnya segala sesuatu berubah.




2.         The Law of Transition From Quantity To Quality
                        Dengan hukum yang kedua ini, hendak diterangkan bagaimana terjadinya perubahan pada suatu benda atau gejala. Setiap benda selain memiliki dua unsur yang bertentangan, juga mempunyai dua aspek yaitu kualitatif dan kuantitatif. Misalnya saja sebuah senar biola memiliki panjang dan tebal tertentu yang dapat diukur, inilah yang dimaksud dengan aspek kuantitatifnya. Kemudian pada panjang dan tebal tertentu, senar biola tersebut akan menghasilkan nada tertentu, inilah yang menjadi aspek kualitatifnya. Perubahan pada aspek kuantitaf akan menimbulkan perubahan pada aspek kualitatif.
                        Pertentangan antara unsur-unsur yang bertentangan dalam suatu benda akan menyebabkan perubahan kuntitatif, yang selanjutnya akan menimbulkan perubahan kualitatif. Memang perubahan kuantitatif tidak serta merta selalu menimbulkan perubahan kualitatif yang cepat. Tetapi terkadang juga perubahan kualitatif baru terdeteksi ketika perubahan kuantitatif yang terjadi pada suatu benda sudah berlangsung berkali-kali. Maka pada pada saat sampai pada batas terterntu dimana perubahan itu mulai dapat diketahui itu disebut node. Pada saat itu benda X bisa jadi telah menjadi bukan benda X. Misalnya sebuah mobil yang telah berkarat perlahan-lahan, pada suatu batas tertentu akan menjadi bukan mobil lagi melainkan sebuah besi tua yang karatan. Perubahan kuantitatif dapat terjadi perlahan-lahan (evolusioner) dan dapat pula terjadi dalam waktu singkat (revousioner).
3.         The Law of Negation of The Negation
                        Hukum yang ketiga ini hendak menjelaskan kearah mana suatu perubahan itu terjadi. Hegel sudah menyatakan bahwa synthesis itu berawal dari thesis dan antithesis. Menurut Hegel, sudah barang pasti synthesis akan lebih sempurna dari thesis dan antithesis. Dengan menggunakan hukum ini pada dunia material dan kehidupan social, Marx mengatakan bahwa setiap perkembangan dialektis membawa kita ke tingkatan yang lebih tinggi, yang meniadakan tingkatan sebelimnya(negation of the negation). Dilain puhak, hukum ini juga menerangkan bahwa setiap kenyataan tidak terlahir begitu saja. Ia mempunyai hubungan dengan kenyataan yang sebelumnya dan kenyataan yang akan datang.
                        Begitu pula dengan filsafat Marx, tidak terlahir begitu saja tanpa adanya Filsafat Yunani, Hegel Feurbach dan sebagainya. Yang pastinya adalah kenyataan yang sekarang lebih baik dari pada yang sebelumnya, dan kenyataan yang akan datang tentulah akan lebih baik dari pada sekarang.
                        Dari Dialektika Hegel yang dikembangkan oleh Marx inilah yang ia dijadikan sebagai dasar teorinya tentang perkembangan sejarah atau yang dikenal dengan Materialisme Sejarah. Marx melihat masyarakat sebagai suatu bangunan sosial-ekonomi (sicio-economic formation), yang terdiri dari dua lapisan, yaitu: lapisan bawah yang disebut economic substructure (ada juga yang menyebutnya economic infrastructure) dan lapisan atas yang disebut cultural superstructure. Karena kontradiksi yang terjadi di dalam economic substructure, dan antara economic substructure dengan cultural superstructure, akhirnya seluruh bangunan masyarakat berubah dan berkembang ke tingkatan yang lebih tinggi.
                        Adapun alasan Karl Marx  menjadikan economic substructure sebagai dasar bagi cultural superstructure yakni karena menurut Marx sendiri, manusia pada dasarnya haruslah terlebih dahulu makan, minum, dan mempunyai tempat bertedu serta pakaian sebelum ia dapat berkecimpung dalam dunia politik, ilmu pengetahuan, seni, agama dan sebagainya.










Berikut Bagan Analisis Marx tentang arah perubahan masyarakat berdasarkan analisis yang ia kemukakan:

Right Arrow: Arah Perubahan
 








Trapezoid: Economic Substructure
Socio-Economic Formation
 
Cultural Superstructure
 
                        Adapun rentetan perubahan masyarakat menurut Karl Marx adalah sebagai berikut: (1) masyarakat primitive, (2) masyarakat perbudakan, (3) masyarakat feudal, (4) masyarakat kapitalis, (5) masyarakat komunis. Perubahan dan perkembangan ini berlangsung menurut suatu hukum besi perkembangan sejarah, terlepas dari kemauan manusia sendiri. Manusia memang menciptakan sejarah, tetapi manusia sendiri ditentukan oleh sejarah. Apa yang akan dilakukan oleh manusia yang mengerti tentang hukum  tangan besi ini adalah mempercepat proses perubahan dan perkembangan itu sendiri guna meminimalisir pengorbanan-pengorbanan yang terjadi pada setiap peralihan.
Mereka yang melawan hukum besi ini, secara sia-sia adalah kaum reaksioner yang hendak kembali ke keadaan sebelumnya. Mereka yang mau mempertahankan keadaan yang adalah kaum konservatif. Sedangkan mereka yang mempercepat berlakunya hukum besi ini adalah kaum progresif.




















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Secara sadar Marx Menolak sistem kapitalisme di dalam teorinya. Sistem kapitalisme akan digantikan oleh sistem sosialisme yang pada akhirnya akan melahirkan sistem komunisme. Inilah hukum Negation of The Negation, yaitu satu dari tiga hukum dialektika Hegel yang dipergunakan oleh Karl Marx.
            Menurut Marx, kontradiksi dan perkembangan masyarakat tersebut terjadi menurut hukum besi yang tidak dapat ditiadakan manusia. Manusia hanyalah dapat memperlambat ataupun mempercepat proses perkembangan tersebut.
B.     Kritik
            Adapun kritikan penulis terhadap beberapa pemikiran diatas, dilakukan atas dasar menjaga kelestarian setiap teori dan juga bagaimana pendangan penulis terhadap pemikiran Marx itu sendiri. Adapun kritikan kami terhadap pemikiran Marx antara lain:
1.      Pandangan Karl Marx pada dasarnya terlalu Materialis. Padahal dalam dunia ini, alat indra bukanlah satu-satunya alat yang bisa kita pergunakan sebagai alat epistemologi. Ada pengetahuan-pengetahuan di dunia ini yang asalnya tidak hanya dari alam yang kita inderai setiap hari, melainkan beberapa pengetahuan juga ada yang berasal dari alam pikiran manusia. Selain pikiran ada pula hati yang terkadang tanpa dipungkiri juga merupakan alat epistimologi kita. Hati disini berfungsi dalam hal menerima pengetahuan-pengetahuan yang sifatnya intuitif, dan juga hati inilah yang menjadi landasan manusia untuk menjadi patokan adanya etika.
2.      Adapun teori Marx mengenai Perubahan Masyarakat, menurut penulis tidak selamanya keadaan sebelumnya dari sebuah masyarakat itu lebih buruk dari keadaan sekarang. Seperti yang dapat kita jumpai pada beberapa kisah sejarah dari kerajaan-kerajaan yang pernah ada.
















DAFTAR PUSTAKA
Anthony Giddens. Capitalism and Modern Social Ttheory. London: Cambridge University Press. 1985.
Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx : Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Gramedia, Cetakan VI, 2003.
George H. Hampsch, The Theory of Comunism. New York: Philosopical Library, 1965.
Hadiwijono Harun. Sari Sejarah Filsafat 2. Yogyakarta: Kanisius. 1980.
Karl Marx, Capital: A Critical Analysis of Capitalist Production. Moscow; Foreign Languages Publishing House, 1961, Vol I.
Karl Marx, Early Texts ; diterjemahkan dan diedit oleh David McLellan. New York : Barnes and Noble, 1972.
W.I.M Poli, Tonggak-Tonggak Sejarah Pemikiran Ekonomi Surabaya: Brillian Internasional, Cetakan I, 2010.




[1] Kalimat yang ditujukan sebagai kritikan kepada Feurbach ( Franz Magniz Suseno, Pemikiran Karl Marx, dari sosialisme Utopis ke pemikiran Revisionisme, Jakarta: Gramedia, 2003, h 4.
[2] W.I.M Poli, Tonggak-Tonggak Sejarah Pemikiran Ekonomi Surabaya: Brillian Internasional, Cetakan I, 2010. h 132
[3] Seorang ahli filsafat kenamaan pada abad ke XVIII yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan berasal dari pengalaman nyata manusia.
[4] Karl Marx, Early Texts ; diterjemahkan dan diedit oleh David McLellan. New York : Barnes and Noble, 1972. h 8
[5] Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx : Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Gramedia, Cetakan VI, 2003.  h  47.
[6] W.I.M Poli, Tonggak-Tonggak Sejarah Pemikiran Ekonomi Surabaya: Brillian Internasional, Cetakan I, 2010. h 140
[7] W.I.M Poli, Tonggak-Tonggak Sejarah Pemikiran Ekonomi, op.cit, p. h 142
[8] Titus, Smith dan Nolan. Persoalan-Persoalan Filsafat. Terj. Rasjidi. Bulan Bintang. 1984. h, 302-306.
[9] Sebagai catatan konsep dialektika itu sendiri semula digunakan Fichte (1732-18140 dalam ulasannya yang disebut triade meliputi tesis, antitesis dan sintesis, kemudian digunakan metode filsafat oleh Hegel dan diperdalam oleh Marx dalam praksis masyarakat.
[10] George H. Hampsch, The Theory of Comunism. New York: Philosopical Library, 1965. h 59-60
[11] Titus, Smith dan Nolan. Persoalan-Persoalan Filsafat, Op. Cit, p. h 302-303
[12] Hadiwijono Harun. Sari Sejarah Filsafat 2. Yogyakarta: Kanisius. 1980. h. 119.
[13] Titus, Smith dan Nolan. Persoalan Persoalan Filsafat, Op. Cit, h, 297.
[14] Anthony Giddens. Capitalism and Modern Social Ttheory. London: Cambridge University Press. 1985. h.20-21.
[15]  Karl Marx, Capital: A Critical Analysis of Capitalist Production. Moscow; Foreign Languages Publishing House, 1961, Vol I. hal 19
[16] W.I.M Poli, Tonggak-Tonggak Sejarah Pemikiran Ekonomi, op.cit, p. hal 161-164

1 komentar:

  1. Pemikiran Karl Marx dalam sudut pandang yang lain
    Silahkan dibaca http://www.aufatih.com/2016/05/makalah-pemikiran-karl-marx-dan-teori.html?m=1

    BalasHapus