Makalah Pemikiran
Karl Marx
Diseminarkan pada mata kuliah
Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam
Oleh :
Abdul Rahman
Ferdiansya S
Inayah Khairat
JURUSAN EKONOMI ISLAM
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji dan Syukur adalah sebuah keniscayaan yang
Penulis haturkan kehadirat Allah SWT karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nyalah sehingga penulis dapat menyusun Makalah yang berjudul “Pemikiran Karl Marx”.
Shalawat dan salam penulis curahkan kepada
baginda Rasulullah saw. sang revolusioner sejati yang memberikan kita
pencerahan sehingga kita mampu keluar dari belenggu kejahilan.
Adapun makalah ini kami susun untuk memenuhi
tugas makalah kelompok dan juga sebagai salah satu prasyarat untuk memperoleh
nilai dalam mata kuliah. Selain itu juga untuk memberikan sumbangsi ide
terhadap permasalahan yang selama ini dialami di negara – negara Islam,
terutama di negara kita Indonesia.
Dalam penyelesaian makalah ini, penulis
tentunya mendapatkan begitu banyak hambatan. Namun berkat bantuan dari beberapa
pihak yang tak sempat penulis sebutkan, maka penulis mampu menyelesaikan
makalah ini. Untuk itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………………i
KATA PENGANTAR………………………………………….ii
DAFTAR ISI……………………………………………………iii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………….1
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………..4
BAB II PENUTUP………………………………………………..18
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………….20
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Karl Heinrich Marx adalah seorang yang memiliki pengaruh yang
sangat besar terhadap sejarah perkembangan umat manusia modern. Pemikirannya
bukan hanya meliputi ekonomi dan sosiologi melainkan ia juga adalah seorang
filsuf dan sejarawan yang ulung. Bahkan sampai saat ini, pemikirannya masih
banyak mendapatkan pro dan kontra dikalangan pemikir dan ilmuwan.
Menurut Franz
Magnis Suseno, sejarah perkembangan umat manusia bisa saja berbeda pada hari
ini tanpa kehadiran Karl Marx. Tidak mengherankan jika Michael Hart meletakkan Karl
Max di tempat yang tinggi dalam susunan Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam
sejarah. Pada masa jayanya, jumlah manusia yang sedikitnya terpengaruh oleh
Marxisme mendekati angka 1,3 milyar. Jumlah penganut ini lebih besar dari
jumlah penganut ideologi mana pun sepanjang sejarah manusia.
Pengaruh
pemikiran Marx tidak bisa diragukan lagi dalam sejarah perjalanan dunia dewasa
ini. Berbeda dengan filsuf pada umumnya,
Marx tidak hanya memberikan rangsangan terhadap cara berfikir manusia yang
mempelajari karyanya namun ia juga mengubah cara manusia dalam bertindak.
Menurut Marx, “Para filosof hanya menginterpretasikan dunia dalam
berbagai cara; masalahnya adalah bagaimana mengubah dunia.”[1] Hal inilah yang
kemudian membedakan Marx dari filosof lain, misalnya, Auguste Comte atau Martin
Heidegger, bahkan David Hume yang hanya sanggup mengubah cara manusia berfikir.
Meskipun tidak bisa dipungkiri juga bahwa perubahan pemikiran ini berdampak pada
kehidupan masyarakat luas, namun efeknya tidak sebesar Karl Marx. Filsafat Marx
lebih diletakkan untuk mengubah dunia. Hal ini dibuktikan dengan terjun
langsungnya Marx bersama dengan Friedrick Engels dalam Liga Komunis di Eropa
dan mereka berdua pulalah yang menjadi tokoh teoritisnya. Dari organisasi ini pula Marx
menuliskan pemikirannya dalam sebuah naskah bernama The Comunist Manifest, yang
pada masa hidupnya ia mencari data sejarah yang dapat mendukungnya. Dari situ
pula;ah lahir beberapa karya Marx yang dapat memberikan bahan acuan kepada
penulis untuk sebisa mungkin membedah pemikiran Marx.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
dari uraian diatas, maka kami selaku penulis merumuskan beberapa masalah pokok
yang akan kami bahas adalah “ siapa Karl Marx serta bagaimana isi pemikiran
Karl Marx, mulai dari filsafat, sosial dan juga ekonominya”. Untuk lebih rinci
dan jelasnya pokok masalah diatas, maka kami akan menjabarkannya dalam bentuk sub-sub masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perjalanan hidup dan
Intelektual Karl Marx?
2. Bagaimana pendapat Karl Marx
terhadap pemikiran G.W.F Hegel dan Ludwig Feurbach?
3. Bagaimana peta konsepsi Karl Marx
terhadap pembentukan masyarakat?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi
Karl Marx
Karl Marx, lahir pada bulan Mei 1818
di Trier, Jerman. Ayahnya seorang pengacara yang beberapa tahun sebelumnya
pindah agama Yahudi menjadi Kristen Protestan. Perpindahan agama ayahnya yang
begitu mudah diduga merupakan alasan mengapa Karl Marx tidak pernah tertarik
dengan Agama. Ayahnya mengharapkan Marx menjadi notaris sebagaimana ayahnya. Namun
tetangga Marx, Baron von Westphalen, yang kemudian menjadi mertuanya
mempengaruhinya dengan karya-karya Shakespeare dan Homer, serta mendorongnya
untuk mempelajari karya-karya Saint-Simon (1760-1825), seorang tokoh sosialis
Prancis[2].
Pada saat di Trier ia bersekolah
pada sekolah Yesuit, yang mana kepala sekolahnya adalah pengikut ajaran
Immanuel Kant (1724-1804)[3],
yang dicurigai Pemerintah Prusia sebagai penyebar pemikiran-pemikiran liberal.
Pada tahun 1835, yakni pada usia 17
tahun, Marx meninggalkan Trier dan mempelajari Ilmu Hukum di Universitas Bonn.
Di sana ia dipengaruhi oleh dosennya W.Fr.Schlegel yang memnyebkan ia lebih
banyak mempelajari dan menulis puisi ketimbang mempelajari hukum. Disamping itu
ia hidup berfoya-foya dan terlilit hutang. Ketika kedapatan menderita luka
dalam sebuah perkelahian, ayahnya memindahkannnya ke Universitas Berlin yang
lebih bergengsi. Pada saat itu semua Universitas di Jerman diwajibnkan untuk mengajarkan
ajaran Filsafat George Friedrich Wilhelm Hegel (1770-1831).
Dalam masa awal kuliahnya di
Universitas Berlin, Marx sendiri lebih sering mengikuti pertemuan-pertemuan
dari pada mengikuti materi perkuliahan. Pada tahun pertama di sana ia telah
memasuki sebuah kelompok terpelajar “Klub Para Doktor”, yang juga dinamakan
“Kaum Hegelian Muda” yang berpandangan radikal. Sebagian dari anggotanya adalah
pengajar universitas. Namun di dalam kelompak tersebut sudah mulai banyak
terungkap perbedaan dalam menanggapi permasalahan-permasalahan mutakhir yang
dihadapi oleh masyarakat. Tetapi dari berbagai pandangan yang ada, ia dapat
memadukannya kedalam pendapatnya sendiri yang hasilnya sangat mengairahkan.
Pada saat itu ia merasa telah merasa menjadi pengikut Hegel yang matang[4].
Di kemudian hari ia menyatakan memisahkan diri dari pemikairan mereka ini.
Karena tidak disukai di Universitas
Berlin, Marx menulis dan mempertahankan desertasinya untuk mencapai gelar
Doktor Filsafat di Universitas Jena pada tahun 1841 tentang Filsafat Demokritos
dan Epocurus[5]. Kertas
kerja dan pengantar disertasi ini secara jelas menunjukkan Marx sangat
Hegelian, dan antiagama. Hal terakhir ini juga yang membuat Marx dicap sesat,
dan mulai dijauhi rekan-rekannya. Marx tumbuh di tengah pergolakan politik yang
dikuasai oleh kekuatan kapitalis para Borjuis yang menentang kekuasaan
aristokrasi feodal dan membawa perubahan hubungan sosial.
Meskipun ia memperjuangkan kelas
orang-orang tertindas sebagai referensi empiris dalam mengembangkan teori filsafatnya.
Selama hampir setahun ia menjadi pimpinan redaksi sebuah harian radikal 1843,
sesudah harian itu dilarang oleh pemerintah Prusia, ia kawin dengan Jenny Von
Westphalen, putri seorang bangsawan, dan pindah ke Paris. Di sana ia tidak
hanya berkenalan dengan Friedrich Engels (1820-1895) yang akan menjadi teman
akrab dan “penerjemah” teori-teorinya melainkan juga dengan tokoh-tokoh
sosialis Perancis. Dari seorang liberal radikal ia menjadi seorang sosialis.
Beberapa tulisan penting berasal waktu 1845, atas
permintaan pemerintah Prussia, ia diusir oleh pemerintah
Perancis dan pindah ke Brussel di Belgia. Dalam tahun-tahun ini ia
mengembangkan teorinya yang definitif. Ia dan Engels terlibat dalam macam-macam
kegiatan kelompok-kelompok sosialis. Bersama dengan Engels ia menulis Manifesto
Komunis yang terbit bulan Januari 1848[6].
Sebelum kemudian pecahlah apa yang
disebut revolusi’48, semula di Perancis, kemudian juga di Prussia dan Austria.
Marx kembali ke Jerman secara ilegal. Tetapi revolusi itu akhirnya gagal.
Karena diusir dari Belgia, Marx akhirnya pindah ke London dimana ia akan
menetap untuk sisa hidupnya.
Kehidupan baru Marx di London
dimulai dengan aksi-aksi praktis dan revolusioner ditinggalkan dan perhatian
dipusatkannya pada pekerjaan teoritis, terutama pada studi ilmu ekonomi.
Tahun-tahun itu merupakan tahun-tahun paling gelap dalam kehidupannya. Ia tidak
mempunyai sumber pendapatan yang tetap dan hidup dari kiriman uang
sewaktu-waktu dari Engels. Disana ia belajar setiap hari, bahkan terkadang
mulai dari pagi hingga malam hari di Perpustakaan British Museum tentang
perkembangan ekonomi, mencari fakta sejarah tentang perkembangan masyarakat dan
sejarah berdasarkan produksi di bidang ekonomi.
Akhirnya, pada tahun 1857 Marx
menyelesaikan sebuah tulisan setebal 800 halaman yang membahas tentang modal,
kepemilikan tanah, upah buruh, Negara, perdagangan luar negeri dan pasar dunia.
Tulisan ini diberi judul Grundisse, namun baru diterbitkan pada tahun
1941. Dan setelah penulisan grundisse, pada awal 1860-an, ia beralih
menulis Theory of Surplus Value sebanyak 3 jilid. Buku ini membahas
secara khusus tentang teori nilai Adam Smith dan David Ricardo[7].
Sedangkan pada tahun 1867, barulah terbit
jilid pertama Das Kapital, karya utama Marx. Dalam karya ini, ia mungembangkan
konsepnya mengenai labour theory of value, surplus value dan eksploitasi
kaum kapitalis yang pada akhirnya menghasilkan kemelaratan bagi kaum buruh (verelendungstheorie:
Teori Pemelaratan). Sedangkan jilid kedua dan ketiga baru diselesaikan oleh
Friedrich Engels setelah Marx meninggal yakni pada tahun 1885 dan 1894.
Tahun-tahun terakhir hidupnya amat sepi dan tahun 1883 ia meninggal dunia.
B.
Pendapat Karl Marx Terhadap
Pemikiran G.W.F Hegel dan Ludwig Feurbach
Seperti yang
dikemukakan pada bagian sebelumnya, mulanya Marx mempelajari ajaran filsafat
Hegel yang mengagungkan pikiran manusia di atas materi. Hegel berpendapat bahwa[8]:
1.
Alam ini adalah proses menggelarnya
fikiran-fikiran , sehingga dari proses tersebut timbul proses alam, sejarah
manusia, organisme dan kelembagaan masyarakat (pandangan historical idealism).
2.
Bagi Hegel materi adalah kurang riil dibandingkan
dengan jiwa (spirit), karena fikiran atau jiwa adalah esensi dari alam.
3.
Dunia menurut Hegel adalah selalu
dalam proses perkembangan (perubahan). Proses perubahan tersebut bersifat
dialektik, artinya perubahan-perubahan tersebut berlangsung melalui tahap
afirmasi atau tesis, antitesis (pengingkaran) dan sampai pada sintesis atau
integrasi. Segala perkembangan baik dalam benda atau dalam ide, terjadi
dengan cara mengalahkan kontradiksi (dialektika)[9].
Pandangan Hegel
tersebut dikenal dengan filsafat historical idealism[10].
Yang mengartikan sejarah adalah sejarah gagasan dan berarti pula bahwa
lokomotif perubahan itu adalah gagasan (ide), dimulai dari benak manusia
kemudian dilakukan dalam kehidupan manusia Penafsiran lain terhadap pandangan
Hegel (dialektika) yaitu bahwa pelajaran sejarah apapun yang ada di dalam
kehidupan tidak mengikuti perkembangan akumulatif dari masa ke masa. Tetapi
perkembangan masyarakat itu justru karena adanya pertentangan (kekuatan contradiction,
kontradiksi). Bagi Hegel kontradiksi itu ada di dalam gagasan yang dikenal
tesis, antitesis dan sintesis yang dikenal pula dengan dialektika.
Marx menolak
idealisme Hegel, ia membalikkan filsafat Hegel, dan menyatakan bahwa hanya
materi (bukan ide atau gagasan) yang pokok sebagai lokomotif perubahan. Materi
yang diperlihatkan oleh organisasi ekonomi dari
masyarakat serta cara-cara produksi (mode of production), maka akan
menentukan kelembagaan politik dan sosial dari masyarakat (superstruktur) .
Kekeliruan Hegel menurut Marx dan Engels, karena Hegel menyajikan dalam bentuk
mistik. Jika pandangannya dibebaskan dari bentuk mistiknya, maka anggapan sejarah
adalah dialektika akan merupakan kebenaran yang dalam. Dialektika bagi Marx dan
Engels adalah fakta empirik, yang dapat diketahui dengan penyelidikan tentang
alam, yang dikuatkan lebih lanjut oleh hubungan-hubungan sebab akibat yang
diperlihatkan oleh ahli sejarah dan sains. Proses dialektika bukan proses
mekanik dan deterministik, tetapi banyak faktor yang berinteraksi, dimana
produk bahan keperluan hidup merupakan faktor dominan.[11]
Marx menolak idealisme Hegel, tetapi menerima dialektikanya, sehingga historical
idealism fikiran Hegel diadopsi aspek historisnya saja dan ditambahkan
aspek dialektikanya, sehingga Marx menyusunnya menjadi idealisme sejarah (historical
idealism), yang akhirnya menjadi historical materialism, setelah
mengkritik dengan pedas dan mengambil aspek materialisme dari Feurbach.
Demikian
pula pandangan Feurbach (1804-1872), dikenal sebagai tokoh pemikiran
materialisme mekanik (mechanistic materialism), pandangannya menolak
metafisika. Menurut Feurbach yang penting bagi manusia adalah usahanya bukan
akalnya, sebab pengetahuan hanya sebagai alat untuk mencapai usaha manusia berhasil.
Manusia sebagai makhluk alamiah (Gattung).[12]
Materialisme mekanik adalah sebagai doktrin yang menyatakan bahwa alam itu
diatur oleh hukum-hukum alam yang dapat dijelaskan oleh sains fisik.[13]
Demikian
pula materialisme mekanik dari Feurbach tidak luput dari kritik Marx, yang ditulisnya
dalam Tesis-tesis mengenai Feurbach (Theses on Feurbach). Marx
menyatakan bahwa:
Pendekatan
Feurbach tidak historis, ia membuat manusia abstrak mendahului masyarakat, ia
tidak menurunkan manusia menjadi shaleh dan gagal melihat bahwa rasa shaleh itu
sebagai produk sosial. Gagasan Feurbach hanya merupakan “renungan” realitas
materi padahal ada realitas timbal balik antara kesadaran dan praksis manusia.
Kenyataan material diyakini manusia sebagai penentu kegiatan manusia, tetapi
tidak menganalisis modifikasi dunia obyektif dengan subyektif dengan kegiatan
manusia. Dengan demikian doktrin materialis Feurbach tidak mampu menangani
fakta, maka kegiatan revolusioner adalah tindakan manusia yang dilakukan secara
sadar dan dikehendaki. Dimana ini dalam kaitan pengaruh “searah” kenyataan
materi memengaruhi gagasan. Keadaan diubah oleh manusia dan sang pendidik harus
dididik.[14]
Keberatan
Marx terhadap para materialis karena bukan menggunakan metode dialektis,
melainkan statis, sehingga tidak historis. Padahal Marx berusaha menerapkan
materialisme dialektis bagi kehidupan masyarakat. Marx tidak tahan melihat
kenyataan dan tidak mau menggantungkan diri kepada hukum-hukum alam (yang
bersifat mekanistik). Manusia dalam pandangan Marx tidak lepas dari hubungan-hubungan
kemasyarakatan yang melahirkan manusia. Pertumbuhan manusia menyibukkan manusia
untuk giat bekerja dan berproduksi. Dengan demikian Marx mengambil
“materialisme” dan meninggalkan unsur filsafat “mekanistiknya” dari pandangan
Feurbach, untuk kemudian menggabungkan dengan “historisnya” yang diambil dari
Hegel. Sehingga Marx jalan sendiri dengan hasil adopsi dari kedua filosof
tersebut dengan pandangan “materialisme sejarah” dengan menggunakan metode
dialektika dari Feurbach. Marx dalam hal ini menjadi peramu pemikiran filsafat ulung,
melalui kritik dan mengembangkannya secara empirik.
C.
Konsep Marx
Dalam Pembentukan Masyarakat
Dalam metode
dialektika yang dikembangkan oleh Hegel, Marx juga tidak menafikkan bahwa dia
juga menggunakannya. Namun dia juga mengemukakan ketidak sepakatan terhadap
dasar filosofi Hegel yang mengagungkan ide ketimbang meteri. Penolakan Marx
ditunjukkan dalam gagasannya yaitu:
Metode
dialektikaku bukan saja berbeda melainkan bertentangan dengan metode Hegel.
Bagi Hegel, proses perkembangan otak manusia, yaitu proses berpikirnya, yang
dibawah nama ‘gagasan’ ia mengubahnya menjadi sebuah pokok bahasan yang
independen yang merupakan pencipta dari dunia kenyataan (Realitas), dan bahwa
dunia kenyataan hanya suatu unsur eksternal dari dunia ‘gagasan’. Pendapatku
adalah sebaliknya; apa yang ideal tidaklah lebih dari pencerminan dari pikiran
manusia terhadap kenyataan, yang diterjemahkan kedalam gagasan.[15]
Dialectical
Materialism dari Marx juga menggunakan 3 hukum dari Hegel yang terdiri dari:[16]
1.
The Law of The Unity and Struggle of
Opposite
Hukum ini menerangkan
tentang adanya terjadinya pertentangan dan perubahan dalam setiap materi atau
gejala. Setiap benda terdiri dari dua unsur yang bertentangan. Misalnya saja
atom tersusun atas proton dan electron, listrik mempunyai muatan positif dan
negatif, manusia memiliki sifat-sifat social dan individualis dsb. Walaupun
bertentangan, namun menimbulkan satu kesatuan. Pertentangan itu menimbulkan
kekuatan yang yang mengakibatkan perubahan dan perkembangan. Seluruh alam berubah dan berkembang bukan
karena Tuhan atau suatu kekuatan luar lainnya, melainkan karena adanya
kontradiksi yang cirri setiap benda dan gejala. Setiap benda dan gejala itu
bergerak. Itulah sebabnya segala sesuatu berubah.
2.
The Law of Transition From Quantity
To Quality
Dengan hukum yang kedua
ini, hendak diterangkan bagaimana terjadinya perubahan pada suatu benda atau
gejala. Setiap benda selain memiliki dua unsur yang bertentangan, juga
mempunyai dua aspek yaitu kualitatif dan kuantitatif. Misalnya saja sebuah
senar biola memiliki panjang dan tebal tertentu yang dapat diukur, inilah yang
dimaksud dengan aspek kuantitatifnya. Kemudian pada panjang dan tebal tertentu,
senar biola tersebut akan menghasilkan nada tertentu, inilah yang menjadi aspek
kualitatifnya. Perubahan pada aspek kuantitaf akan menimbulkan perubahan pada
aspek kualitatif.
Pertentangan antara
unsur-unsur yang bertentangan dalam suatu benda akan menyebabkan perubahan
kuntitatif, yang selanjutnya akan menimbulkan perubahan kualitatif. Memang
perubahan kuantitatif tidak serta merta selalu menimbulkan perubahan kualitatif
yang cepat. Tetapi terkadang juga perubahan kualitatif baru terdeteksi ketika
perubahan kuantitatif yang terjadi pada suatu benda sudah berlangsung
berkali-kali. Maka pada pada saat sampai pada batas terterntu dimana perubahan
itu mulai dapat diketahui itu disebut node. Pada saat itu benda X bisa jadi
telah menjadi bukan benda X. Misalnya sebuah mobil yang telah berkarat
perlahan-lahan, pada suatu batas tertentu akan menjadi bukan mobil lagi
melainkan sebuah besi tua yang karatan. Perubahan kuantitatif dapat terjadi
perlahan-lahan (evolusioner) dan dapat pula terjadi dalam waktu singkat
(revousioner).
3.
The Law of Negation of The Negation
Hukum yang ketiga ini
hendak menjelaskan kearah mana suatu perubahan itu terjadi. Hegel sudah
menyatakan bahwa synthesis itu berawal dari thesis dan antithesis.
Menurut Hegel, sudah barang pasti synthesis akan lebih sempurna dari thesis
dan antithesis. Dengan menggunakan hukum ini pada dunia material dan
kehidupan social, Marx mengatakan bahwa setiap perkembangan dialektis membawa
kita ke tingkatan yang lebih tinggi, yang meniadakan tingkatan sebelimnya(negation
of the negation). Dilain puhak, hukum ini juga menerangkan bahwa setiap
kenyataan tidak terlahir begitu saja. Ia mempunyai hubungan dengan kenyataan
yang sebelumnya dan kenyataan yang akan datang.
Begitu pula dengan
filsafat Marx, tidak terlahir begitu saja tanpa adanya Filsafat Yunani, Hegel
Feurbach dan sebagainya. Yang pastinya adalah kenyataan yang sekarang lebih
baik dari pada yang sebelumnya, dan kenyataan yang akan datang tentulah akan
lebih baik dari pada sekarang.
Dari Dialektika Hegel
yang dikembangkan oleh Marx inilah yang ia dijadikan sebagai dasar teorinya
tentang perkembangan sejarah atau yang dikenal dengan Materialisme Sejarah.
Marx melihat masyarakat sebagai suatu bangunan sosial-ekonomi (sicio-economic
formation), yang terdiri dari dua lapisan, yaitu: lapisan bawah yang
disebut economic substructure (ada juga yang menyebutnya economic
infrastructure) dan lapisan atas yang disebut cultural superstructure.
Karena kontradiksi yang terjadi di dalam economic substructure, dan antara
economic substructure dengan cultural superstructure, akhirnya seluruh bangunan
masyarakat berubah dan berkembang ke tingkatan yang lebih tinggi.
Adapun alasan Karl
Marx menjadikan economic substructure
sebagai dasar bagi cultural superstructure yakni karena menurut Marx sendiri,
manusia pada dasarnya haruslah terlebih dahulu makan, minum, dan mempunyai
tempat bertedu serta pakaian sebelum ia dapat berkecimpung dalam dunia politik,
ilmu pengetahuan, seni, agama dan sebagainya.
Berikut Bagan
Analisis Marx tentang arah perubahan masyarakat berdasarkan analisis yang ia
kemukakan:

|
|
Adapun rentetan perubahan masyarakat
menurut Karl Marx adalah sebagai berikut: (1) masyarakat primitive, (2)
masyarakat perbudakan, (3) masyarakat feudal, (4) masyarakat kapitalis, (5)
masyarakat komunis. Perubahan dan perkembangan ini berlangsung menurut suatu hukum
besi perkembangan sejarah, terlepas dari kemauan manusia sendiri. Manusia
memang menciptakan sejarah, tetapi manusia sendiri ditentukan oleh sejarah. Apa
yang akan dilakukan oleh manusia yang mengerti tentang hukum tangan besi ini adalah mempercepat proses
perubahan dan perkembangan itu sendiri guna meminimalisir
pengorbanan-pengorbanan yang terjadi pada setiap peralihan.
Mereka yang
melawan hukum besi ini, secara sia-sia adalah kaum reaksioner yang hendak
kembali ke keadaan sebelumnya. Mereka yang mau mempertahankan keadaan yang
adalah kaum konservatif. Sedangkan mereka yang mempercepat berlakunya hukum
besi ini adalah kaum progresif.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Secara sadar Marx Menolak sistem
kapitalisme di dalam teorinya. Sistem kapitalisme akan digantikan oleh sistem
sosialisme yang pada akhirnya akan melahirkan sistem komunisme. Inilah hukum
Negation of The Negation, yaitu satu dari tiga hukum dialektika Hegel yang
dipergunakan oleh Karl Marx.
Menurut Marx, kontradiksi dan perkembangan
masyarakat tersebut terjadi menurut hukum besi yang tidak dapat ditiadakan
manusia. Manusia hanyalah dapat memperlambat ataupun mempercepat proses
perkembangan tersebut.
B.
Kritik
Adapun kritikan penulis terhadap
beberapa pemikiran diatas, dilakukan atas dasar menjaga kelestarian setiap
teori dan juga bagaimana pendangan penulis terhadap pemikiran Marx itu sendiri.
Adapun kritikan kami terhadap pemikiran Marx antara lain:
1.
Pandangan Karl Marx pada dasarnya
terlalu Materialis. Padahal dalam dunia ini, alat indra bukanlah satu-satunya
alat yang bisa kita pergunakan sebagai alat epistemologi. Ada
pengetahuan-pengetahuan di dunia ini yang asalnya tidak hanya dari alam yang
kita inderai setiap hari, melainkan beberapa pengetahuan juga ada yang berasal
dari alam pikiran manusia. Selain pikiran ada pula hati yang terkadang tanpa
dipungkiri juga merupakan alat epistimologi kita. Hati disini berfungsi dalam
hal menerima pengetahuan-pengetahuan yang sifatnya intuitif, dan juga hati
inilah yang menjadi landasan manusia untuk menjadi patokan adanya etika.
2.
Adapun teori Marx mengenai Perubahan
Masyarakat, menurut penulis tidak selamanya keadaan sebelumnya dari sebuah
masyarakat itu lebih buruk dari keadaan sekarang. Seperti yang dapat kita
jumpai pada beberapa kisah sejarah dari kerajaan-kerajaan yang pernah ada.
DAFTAR PUSTAKA
Anthony
Giddens. Capitalism and Modern Social Ttheory. London: Cambridge
University Press. 1985.
Franz Magnis
Suseno, Pemikiran Karl Marx : Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan
Revisionisme. Gramedia, Cetakan VI, 2003.
George H.
Hampsch, The Theory of Comunism. New York: Philosopical Library, 1965.
Hadiwijono
Harun. Sari Sejarah Filsafat 2. Yogyakarta: Kanisius. 1980.
Karl Marx, Capital:
A Critical Analysis of Capitalist Production. Moscow; Foreign Languages
Publishing House, 1961, Vol I.
Karl Marx, Early
Texts ; diterjemahkan dan diedit oleh David McLellan. New York : Barnes and
Noble, 1972.
W.I.M Poli, Tonggak-Tonggak
Sejarah Pemikiran Ekonomi Surabaya: Brillian Internasional, Cetakan I,
2010.
[1] Kalimat yang
ditujukan sebagai kritikan kepada Feurbach ( Franz Magniz Suseno, Pemikiran
Karl Marx, dari sosialisme Utopis ke pemikiran Revisionisme, Jakarta:
Gramedia, 2003, h 4.
[2] W.I.M Poli, Tonggak-Tonggak
Sejarah Pemikiran Ekonomi Surabaya: Brillian Internasional, Cetakan I,
2010. h 132
[3] Seorang ahli
filsafat kenamaan pada abad ke XVIII yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan
berasal dari pengalaman nyata manusia.
[4] Karl Marx, Early
Texts ; diterjemahkan dan diedit oleh David McLellan. New York : Barnes and
Noble, 1972. h 8
[5] Franz Magnis
Suseno, Pemikiran Karl Marx : Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan
Revisionisme. Gramedia, Cetakan VI, 2003.
h 47.
[6] W.I.M Poli, Tonggak-Tonggak
Sejarah Pemikiran Ekonomi Surabaya: Brillian Internasional, Cetakan I,
2010. h 140
[7] W.I.M Poli, Tonggak-Tonggak
Sejarah Pemikiran Ekonomi, op.cit, p. h 142
[8] Titus, Smith dan Nolan. Persoalan-Persoalan Filsafat.
Terj. Rasjidi. Bulan Bintang. 1984. h, 302-306.
[9] Sebagai catatan konsep dialektika itu sendiri semula
digunakan Fichte (1732-18140 dalam ulasannya yang disebut triade meliputi
tesis, antitesis dan sintesis, kemudian digunakan metode filsafat oleh Hegel
dan diperdalam oleh Marx dalam praksis masyarakat.
[10] George H.
Hampsch, The Theory of Comunism. New York: Philosopical Library, 1965. h
59-60
[11] Titus, Smith dan Nolan. Persoalan-Persoalan Filsafat,
Op. Cit, p. h 302-303
[12] Hadiwijono Harun. Sari Sejarah Filsafat 2.
Yogyakarta: Kanisius. 1980. h. 119.
[13] Titus, Smith dan Nolan. Persoalan Persoalan Filsafat,
Op. Cit, h, 297.
[14] Anthony Giddens. Capitalism and Modern Social Ttheory.
London: Cambridge University Press. 1985. h.20-21.
[15] Karl Marx, Capital: A Critical Analysis of
Capitalist Production. Moscow; Foreign Languages Publishing House, 1961,
Vol I. hal 19
[16] W.I.M Poli, Tonggak-Tonggak
Sejarah Pemikiran Ekonomi, op.cit, p. hal 161-164